1 ebook a week: To Kill a Mockingbird, karya Harper Lee

Waw!

Novel ini sangat bagus. Tidak heran Harper Lee mendapatkan Pulitzer melalui karya ini.
Isinya padat, bervariasi, ada humornya, suspense, ada masalah berat, ada masalah yang ringan-ringan. Harper Lee bercerita dengan teknik flashback yang tidak sepenuhnya linier. Dengan kalimat-kalimat biasa, suspense muncul di bagian yang tidak kita sangka-sangka. Harper Lee juga menggunakan penulisan dengan dialek, baik itu dialek Selatan atau negro, mirip seperti teknik John Steinbeck di buku Of Mice and Men
 
Novel ini memiliki setting tahun 1930-an di suatu daerah yang bernama Maycomb, Alabama.
Tokoh sentral novel ini adalah keluarga Finch, yang terdiri dari sang Ayah, Atticus Finch, dan anaknya, Jean-Louise (Scout) Finch dan kakaknya Jeremy (Jem) Finch. Ceritanya disampaikan melalui penuturan flashback Scout, sang gadis 9 tahun yang tomboi. Dengan gaya bercerita yang sangat to the point, saya bahkan tidak sadar kalau Scout ini adalah seorang gadis. Baru setelah sampai ke cerita mereka masuk sekolah dan orang lain Scout dipanggil dengan “she”, saya ngeh, kalau Scout ini cewek.
Scout dan kakaknya dibesarkan oleh sang Ayah dengan cara yang sangat demokratis dan agak aneh (menurut orang-orang di lingkungannya saat itu). Scout dan Jem, misalnya memanggil ayahnya dengan nama kecilnya, Atticus. Atticus, sang kutu buku, menurunkan kebiasaannya kepada Scout dan Jem. Waktu umur 4 tahun Scout bahkan sudah bisa baca. Selain itu Atticus, yang seorang pengacara, mengajari Scout dan Jem istilah dan logika hukum, jadi mereka kadangkala berbicara tiga beranak ini seperti layaknya pengacara dengan client-nya.
Awalnya ceritanya berisi kisah masa kecil Scout dan Jem dan kenakalan mereka. Mereka punya tetangga sebelah rumah, namanya Arthur (Boo) Radley, yang tidak pernah keluar rumah dan diisukan kalau sang tetangga ini seorang monster. Scout dan Jem beberapa kali mencoba mencari tahu jalan untuk berkenalan dengan sang tetangga ini, walaupun kadangkala dengan cara yang aneh-aneh. Bagian pertama novel ini sangat ringan dan penuh humor, kita sama sekali tidak merasa berat membaca.
Bagian selanjutnya kemudian berubah menjadi sangat serius ketika Scout menceritakan Atticus yang harus menjadi pembela seorang Negro, Tom Robinson, yang dituduh melecehkan seorang wanita kulit putih. Di bagian ini kita jadi mengenal betul bagaimana suasana di Selatan Amerika di zaman itu. Pemisahan rasialis kulit hitam dan putih, lingkungan masyarakat yang sepenuhnya protestan, dan kondisi sulit waktu depresi.
Resensi saya tidak bisa menggambarkan bagusnya novel ini. 
Kalau buku yang lain tidak dibaca tidak apa-apa, tapi yang ini jangan kelewatan.
  
Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.